Cara Terbaik Mencegah Penularan TBC

Sponsored Links

Cara Terbaik Mencegah Penularan TBC

TBC atau TB sering dikenal masyarakat umum sebagai penyakit paru-paru. Iya, memang benar, TBC merupakan salah satu jenis dari penyakit yang menyerang paru-paru. WHO menyatakan bahwa jumlah kasus TB terbesar berada di Asia Tenggara, yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia. Perlu diketahui sebelumnya bahwa di Indonesia TBC masih tergolong penyakit epidemiologi (wabah), bahkan Indonesia merupakan negara urutan ke-3 penderita TB terbanyak setelah India dan Cina. Secara angka, penderita TBC di Indonesia >500 penderita per 100.000 penduduk. Agar kita dapat terhindar dari TB, bagaimanakah cara terbaik mencegah penularan TBC? Mari kita simak secara lengkap mengenai TBC.

Apa itu TBC?

TBC merupakan singkatan dari Tuberkulosis. Kenapa disebut dengan tuberkulosis? karena penyebabnya adalah Mycobacterium Tuberculosis, sehingga dalam dunia medis menyebutnya Tuberkulosis atau lebih sering dikenal dengan TBC atau TB.

Seseorang akan menderita TBC jika mendapatkan atau terpajan bakteri TBC. Maka kita perlu mengetahui bagaimana cara penularan dari TBC, agar kita dapat mengetahui cara terbaik mencegah TBC.

Mycobacterium Tuberculosis
Bakteri Penyebab TBC: Mycobacterium Tuberculosis

Bagaimana Cara Penularan TBC?

TBC menular dari satu penderita ke penderita yang lain melalui percikan dahak orang yang menderita TBC. Namun penularan TBC tidak serta merta terjadi, terdapat beberapa faktor yang menentukan seseorang dapat tertular TBC atau tidak, yaitu bergantung pada:

  1. Jumlah organisme/ bakteri yang keluar
  2. Konsentrasi/ jumlah bakteri dalam udara
  3. Lama waktu terpapar bakteri
  4. Daya tahan tubuh dari individu

Indonesia memiliki iklim tropis dan sub-tropis sehingga sangat cocok untuk kelangsungan hidup bakteri TBC. Dengan demikian dimana saja berada, dapat berpotensi untuk terkena paparan bakteri TBC. Namun, jumlah bakteri dalam udara akan lebih terkendali jika berada dalam tempat yang kelembaban udaranya rendah, dalam artian wilayah yang memiliki kelembaban udara tinggi dapat mempertahankan bakteri di udara lebih lama. Sehingga penderita TBC di wilayah tersebut bisa jadi lebih banyak. Pada intinya, seseorang dapat tertular TBC jika di lingkungan sekitar terdapat penderita penyakit TBC yang tidak mendapatkan pengobatan dan berpotensi untuk menyebarkan bakteri.

Jika kita telah mengetahui seseorang menderita TBC, maka sebaiknya segera untuk melakukan terapi/ pengobatan rutin. Karena Pasien TBC, dalam jangka waktu 5 tahun jika tidak diobati, maka:

  1. 50% akan meninggal dunia
  2. 25% akan sembuh sendiri jika memiliki pertahanan tubuh yang kuat
  3. 25% akan menjadi kasus kronis dan tetap menjadi penyakit yang menular
Kondisi Paru-Paru dengan TBC
Kondisi Paru-Paru dengan TBC

Apa Saja Gejala TBC?

Untuk mengetahui secara dini, bagaimanakah penyakit TBC, maka kita perlu mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan. Penyakit TBC menyerang organ paru-paru, sehingga gejala yang ditimbulkan tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan pernapasan, seperti:

  1. batuk,
  2. batuk berdahak,
  3. sesak napas
  4. nyeri dada.

Adapun gejala yang timbul secara sistemik atau gejala yang ditimbulkan tubuh secara keseluruhan dapat berupa:

  1. demam,
  2. keringat malam,
  3. penurunan Berat Badan (BB) secara drastis.

Langkah Diagnosis Terhadap Penderita TBC:

Tindakan yang harus segera diambil untuk menangani TBC diantaranya:

  1. Anamnesa yaitu melakukan pemeriksaan TBC terhadap seluruh anggota keluarga yang terkena TBC maupun yang berisiko.
  2. Melakukan cek-up fisik secara menyeluruh.
  3. Segera mengambil  sampel darah, sputum (dahak), serta cairan dari otak untuk melakukan tes lab.
  4. Langkah berikutnya yaitu melakukan pemeriksaan patologis dan anatomis.
  5. Melakukan foto dada atau sering disebut dengan ronsen.
  6. Melakukan uji tuberculin dari cairan tubuh.

Jenis obat yang dapat digunakan:

Pengobatan TBC yang biasa digunakan untuk terapi adalah berbagai obat kimia, diantaranya:

  1. Isoniasid
  2. Rifampisin
  3. Pirasinamid
  4. Streptomisin
  5. Etambulol

Penggunaan obat untuk penderita TBC lebih baik diberi/ disarankan oleh dokter, karena pengobatan TBC tidak seperti pengobatan penyakit yang lain. TBC membutuhkan perhatian dan pengawasan khusus, karena jika tidah patuh dalam pengobatan akan menyebabkan resistensi dan kegagalan dalam pengobatan.

Berikut ini adalah prinsip pengobatan yang perlu diterapkan terhadap penderita TBC:

  1. Obat TBC diberikan beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, agar semua kuman (termasuk kuman persisten) dapat terbunuh.
  2. Apabila paduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan), kuman TBC akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisten).
  3. Perlu dilakukan dengan pengawasan langsung oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
  4. Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Penderita TBC dapat dikatakan hidupnya bergantung pada obat, jika proses pengobatan berhasil, maka kemungkinan dalam memperpanjang masa hidup juga berhasil. Secara garis besar, kesuksesan dalam pengobatan TBC adalah Ketepatan jenis obat, Ketepatan dosis dan Ketepatan waktu pengobatan (baik waktu minum dalam satu hari maupun lama jangka waktu meminum obat).

Tips Terbaik Mencegah Penularan TBC

Ingat bahwa di Indonesia, penyakit TBC masih merupakan penyakit epidemiologi, sehingga jumlah penderita TBC masih sangat banyak dan berpotensi untuk terus menularkan bakteri TBC. Agar kita dapat tehindar dari penyakit TBC, maka kita dapat melakukan hal-hal berikut:

  1. Imunisasi BCG; imunisasi BCG biasanya didapat ketika bayi. Jika Anda memiliki bayi, maka berikanlah imunisasi dasar lengkap agar si bayi juga mendapatkan imunisasi BCG.
  2. Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera mendapatkan pengobatan sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan menjadi sumber penularan bakteri TBC.
  3. Bagi penderita tidak meludah sembarangan. Pada dasarnya penularan bakteri TBC berasal dari dahak penderita TBC. Walaupun dahak dari penderita TBC sudah mengering, tetap berpotensi menyebarkan bakteri TBC melalui udara.
  4. Tidak melakukan kontak udara dengan penderita. Bagi Anda yang masih sehat, sebaiknya membatasi interaksi dengan orang yang menderita TBC atau Anda dapat menggunakan alat pelindung diri (masker) ketika Anda harus kontak dengan mereka.
  5. Minum obat pencegah dan hidup secara sehat.
  6. Rumah harus memiliki ventilasi udara yang baik, sehingga sinar matahari pagi dapat masuk ke dalam rumah.
  7. Menutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran
  8. Tips berikutnya adalah dengan melakukan sinar ultraviolet untuk membasmi bakteri. Sinar ini bertujuan untuk membasmi bakteri penyebab penyakit TBC tersebut.
  9. Tips terakhir untuk mencegah penyakit TBC adalah dengan pemberian obat isoniazid. Obat ini sangat efektif memberikan dampak terhadap pencegahan TBC. Walaupun hasil uji lab menunjukkan hasil tes tuberkulin positif, akan tetapi hasil photo ronsen Anda tidak akan menunjukkan adanya penyakit TBC.ah mengetahui cara mencegah penuaran TBC, segeralah Anda mengambil tindakan yang bijak agar tetap sehat dan terhindar dari TBC.