6 Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Kualitas Hidup Anak

Sponsored Links

6 Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Kualitas Hidup Anak

Di Indonesia dalam kurun waktu satu tahun sedikitnya terdapat 100.000 anak yang mengalami dampak perceraian orang tua. Selain itu, Selama tahun 2011 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendapatkan data sebanyak 2.239 kasus penelantaran anak akibat dari perceraian dan kondisi orang tua yang disharmonis. Kejadian perceraian di masyarakat cenderung terus meningkat, dengan demikian akan semakin banyak anak yang mengalami perubahan hidup akibat dari perceraian orang tua.

Keputusan orang tua untuk melakukan perceraian tak lepas dari dampak yang akan diterima oleh anak. Perceraian orang tua salah satunya dapat berdampak terhadap kualitas hidup anak. Walaupun pada dasarnya penyebab turunnya kualitas hidup pada anak baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama belum diketahui secara pasti. Namun hal ini dapat terjadi karena kondisi orang tua merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak.

Kenapa demikian, karena kualitas hidup anak bukan hanya diukur dari segi fisik atau mental namun juga dari segi kesejahteraan ekonomi, konsumsi pangan, kesehatan, pendidikan, perolehan informasi, kepedulian orang tua, interaksi sosial dan perilaku menyimpang. Dengan kondisi orang tua yang tidak lengkap dan kondisi anak yang cenderung menghadapi banyak masalah sehingga perkembangan kehidupan anak dapat terganggu. Selain itu, interaksi anak dengan orang tua merupakan salah satu faktor interpersonal yang dapat mempengaruhi kualitas hidup anak. Adapun status pernikahan orang tua, pendidikan orang tua dan waktu perceraian orang tua merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kualitas hidup anak.

Adapun studi yang pernah dilakukan di Belanda, anak usia 12 tahun akan mengalami masalah internal dan masalah eksternal yang lebih tinggi setelah mengalami perceraian orang tua. Demikian pula dengan penelitian-penelitian lain, yang secara garis besar dapat disimpulkan bahwa dampak perceraian orang tua akan lebih nampak pada anak usia pra-remaja dan remaja.

Nah, dalam artikel ini akan dipaparkan fakta-fakta penelitian yang bisa meyakinkan Anda bahwa perceraian orang tua benar-benar merugikan terhadap kualitas hidup anak . Mari kita simak selengkapnya!!

Akibat perceraian orang tua
Akibat perceraian orang tua

Anak dari keluarga bercerai secara umum memiliki kualitas hidup yang lebih rendah daripada anak dari keluarga utuh.

Jika dinilai menggunakan skor, anak dari keluarga bercerai cenderung memiliki skor yang lebih rendah dalam beberapa aspek. Berikut kami uraikan satu persatu, kenapa anak dari keluarga bercerai memiliki skor yang lebih rendah dalam hal:

  1. Kesehatan Fisik

Anak dari keluarga bercerai memiliki fungsi fisik yang lebih lemah, hal ini dapat disebabkan oleh sumber keuangan yang diterima anak menjadi lebih sedikit, sehingga dapat berpengaruh terhadap ketersediaan dana kesehatan untuk anak. Selain itu, hasil riset lain menunjukkan bahwa setelah 10 tahun memantau kehidupan anak dari keluarga bercerai, mereka memiliki kesehatan fisik yang lebih buruk daripada anak dari keluarga utuh. Sehingga anak dari keluarga bercerai memiliki risiko yang lebih tinggi mendapatkan perawatan medis atau pengobatan.

  1. Kesejahteraan Psikologis/ mental

Khususnya para remaja yang mengalami perceraian orang tua, mereka akan memiliki kesejahteraan psikologis dan penerimaan sosial yang lebih rendah daripada anak dari keluarga utuh. Hal ini dapat terjadi karena mereka tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tua sehingga merasa kesejahteraan psikologisnya tidak terpenuhi. Pada akhirnya mereka mengalami kesulitan dalam menyesuaikan kondisi psikologisnya.

  1. Kebebasan diri

Anak dari keluarga bercerai memiliki kebebasan yang lebih sedikit untuk mengatur dirinya. Hal ini dikarenakan anak dari keluarga bercerai memiliki permasalahan yang lebih kompleks daripada anak dari keluarga utuh. Adanya permasalahan yang dihadapi oleh anak dapat berpengaruh terhadap aktivitas atau kegiatan yang akan dilakukan.

  1. Suasana hati (mood) dan emosi

Ketidakstabilan suasana hati dan emosi merupakan salah satu dampak jangka pendek yang ditimbulkan akibat dari perceraian orang tua. Anak akan merasakan berbagai macam emosi sebelum proses perceraian, selama proses perceraian dan setelah proses perceraian berakhir. Kondisi ini akan terus berlanjut dirasakan oleh anak dalam jangka waktu yang panjang setelah terjadinya perceraian orang tua.

  1. Hubungan dengan orang tua dan kehidupan di rumah

Efek dasar dari perceraian (dan permasalahan orang tua yang menyebabkan perceraian) adalah melemahnya hubungan antara orang tua dan anak. Setelah terjadinya perceraian, orang tua memiliki dua kelompok masalah besar yaitu penyesuaian dengan konflik mereka sendiri dan peran mereka sebagai orang tua yang bercerai. Stres akibat dari perceraian dapat merusak hubungan antara orang tua dan anak. Selain itu, kesehatan mental ibu dan faktor sosial ekonomi dapat mengganggu hubungan antara orang tua dengan anak.

  1. Lingkungan sekolah dan pembelajaran

Akibat perceraian orang tua memiliki hubungan yang positif dengan menurunnya prestasi akademik di sekolah. Anak memiliki cita-cita yang rendah dan hasil ujian yang rendah selama proses perceraian orang tua mereka berlangsung. Dalam riset lain menunjukkan bahwa anak dari keluarga bercerai memiliki kebiasaan membaca, mengeja dan menghitung yang lebih buruk. Selain itu, anak dari keluarga bercerai juga memiliki kebiasaan absen di kelas 60% lebih banyak daripada anak dari keluarga utuh.

Akibat bercerai (Illustasi)
Akibat bercerai (Illustasi)

Lama waktu perceraian orang tua juga berdampak terhadap kualitas hidup anak

Anak yang mengalami perceraian orang tua lebih dari 1 tahun, akan mendapatkan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah daripada anak yang mengalami perceraian orang tua kurang dari 1 tahun. Pada awal tahun perceraian, pada umumnya anak mendapat kasih sayang dan perhatian orang tua yang lebih banyak. Adapun setelah itu, kebanyakan orang tua sibuk dengan dunianya sendiri sehingga anak merasa sendiri dan tidak mendapatkan perhatian.

Selain itu, anak yang mengalami perceraian orang tua lebih dari 1 tahun akan memiliki suasana hati (mood) dan emosi yang tidak stabil. Hal ini dapat terjadi karena beberapa dampak perceraian dalam jangka pendek akan terakumulasi, sehingga satu tahun setelah terjadinya perceraian, anak akan mendapatkan permasalahan yang semakin kompleks dan menimbulkan emosi yang semakin hebat.

Jika terjadi pereceraian, berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua agar anak tetap memiliki kualitas hidup yang baik:

  1. Ayah tetap menjaga komunikasi, meluangkan waktu, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak agar perilaku anak tetap terjaga dari hal-hal yang bersifat merugikan.
  2. Ayah tetap memberi nafkah kepada anak walaupun anak sudah tidak lagi tinggal bersamanya.
  3. Orang tua memfasilitasi anak untuk dapat bertemu dengan pihak-pihak yang dapat memberikan dukungan sosial (kakek/ nenek, teman, ayah dan sanak famili lain).

Nah, gimana??? Masih kurang banyak kah realita tentang dampak perceraian yang akan diterima oleh anak? Secara garis besar, hal-hal di atas sudah dapat membelalakkan mata kita tentang akibat dari perceraian.

So, permasalahan tak harus diselesikan dengan perceraian & perceraian bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan permasalahan.